Mendiknas menyatakan, buku
pelajaran di sekolah dipilih oleh pihak sekolah sendiri dengan masa
berlaku minimal lima tahun. Murid, lanjut dia, bisa langsung membeli ke
pengecer atau toko buku, dan guru dilarang berdagang buku kepada murid.
Depdiknas membeli hak kopi buku, mengizinkan siapa saja untuk
menggandakannya, menerbitkannya, atau memperdagangkan dengan harga
murah.(http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=506)Memang begitulah seharusnya tugas Pemerintah: membeli hak kopi buku dan membebaskan rakyat untuk memperbanyak bahkan memperdagangkannya niscaya high cost economy di bidang buku nggak kan ada lagi. Apalagi dengan adanya internet dimana masyarakat bisa mendownload softcopynya, tanpa disadari biaya cetak (bahkan biaya download) akan ditanggung masyarakat dan tentu saja tidak akan terasa memberatkan karena masyarakat hanya mengcover biaya cetak untuk kebutuhannya sendiri.
Alangkah bagusnya jika kebijakan pemerintah tuk membeli hak kopi ini tidak berhenti di buku pelajaran saja tetapi untuk setiap buku yang layak dibaca masyarakat umum, tentunya departemen terkaitlah yang harus membiayai pembelian hak kopi itu.
Ayo Kominfo beli hak kopi buku-buku IT yang bagus terus diupload di internet dan kirim softcopynya dalam bentuk CD ke sekolah, kantor, pesantren, dll untuk diperbanyak dengan biaya masing-masing. Begitu juga untuk departemen-departemen lainnya. Sok ah derrrr tong omong doang… action mennnn…
Selamat membajak dengan halal…
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
Pemimpin-1
Agar sukses jadi pemimpin
umar bin khatab: miliki apapun yang didewa-dewakan lingkungan yang akan dipimpin
Gus Dur: bangsa (kelas) kambing akan memilih pemimpin (kelas) kambing juga
ilustrasi:
(Mungkin), ketika apa yang didewa-dewakan kaum kafir Quraisy (kekuasaan) belum dimiliki Rasulullah, maka kepemimpinan Rasulullah di Mekkah saat itu belum bisa diterima (ditolak). Yang dilakukan Rasulullah s.a.w. adalah hijrah ke Madinah (yang ‘mendewa-dewakan’ keadilan, kebenaran, kejujuran dan semua itu sudah dimiliki Rasulullah s.a.w). Sehingga kepemimpinan beliau bisa diterima.
Ketika kekuasaan sudah dimiliki (Fatul Makkah), Rasulullah kembali ke Makkah dan diterima oleh orang-orang Mekah sebagai pemimpin.
Jadi kemampuan dasar yang harus kita miliki untuk menjadi seorang pemimpin adalah: Mampu membaca kebutuhan lingkungan, selanjutnya penuhi kebutuhan itu, kalau 2 kemampuan itu tak kita miliki jangan coba-coba maju tuk jadi pemimpin 99,9 % kegagalan lah yang kan kita capai. Lebih baik hijrah ke lingkungan dimana kebutuhannya bisa kita penuhi. Begitu pula kalau kita ingin memenangkan persaingan bisnis: penuhi 2 syarat tersebut atau bikin blue ocean dimana kompetisi menjadi tidak relevan lagi.
Technorati Tags: pemimpin, gus dur, umar bin khatab
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
Mestinya…
Masalah sudah diketahui, solusipun sudah di tangan (at least di level knowledge), kok nggak maju-maju juga yah bangsa ini?
- Contoh:para pengamat, akademisi, politisi, produser, penyanyi, ulama tampaknya sudah pada tahu kalau acara tv saat ini lebih banyak negatifnya bagi perkembangan anak (termasuk anak-anak mereka tentunya) oleh karena itu harus segera dilakukan perbaikan pada tayangan TV, kenyataannya? mamamia, dangdut mania, indonesian idol, afi, giliran menggantikan tayangan horor yang mulai habis masa edarnya. Sehingga hampir tiap malam selama 6 jam dihabiskan di depan TV ;(
- Contoh kedua: Kemacetan lalu lintas karena jumlah kendaraan sebanyak penumpangnya, sudah tahu sih solusinya: shopisticated public transportation! kenyataannya?
Mestinya kita beresken 2 sisi,
- yaitu sisi manusianya, untuk setiap individu agar segera terapkan 3 M nya agym (mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil-kecil, mulai saat ini juga).
- Di sisi sistem: reward & terutama punishment yang konsisten/instant untuk setiap pelanggaran sistem sekecil apapun. Di salah satu negeri yang cukup maju, konon kita nggak perlu terlalu khawatir barang kita dicuri orang, karena sang calon pencuri akan mikir keras atas sanksi yang kan diterima jika ketahuan mencuri, yaitu: Identity number ybs. akan diblok sedemikian rupa shg nggak kan bisa ngurus KTP, kartu kredit, perpanjang STNK, SIM dst. sungguh mengerikan sanksi sosial yang akan diterima. Sementara kalau di negeri ini? Bikin aturan nggak boleh merokok tapi ‘tak pernah’ ada yang kena sanksi padahal perokok dimana-mana, haram hukumnya pungli itu tapi dimana-mana terjadi pungli dan rasanya tak banyak pelaku pungli yang kena sanksi.
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
Hak cipta (Peng-copy-an…) #2
Konon… Inul sang pengebor bisa sukses menjadi entertainer papan atas adalah berkat vcd yang bersangkutan saat ’show’ dari pesta kawinan satu ke pesta kawinan lainnya dibiarkan dicopy orang, tampaknya memang kerugian lah yang dia dapatkan karena kehilangan royalti, tapi kompensasi yang dia dapatkan ternyata jauh lebih berharga daripada sekedar royalti, yaitu … PROMOSI GRATIS yang membuatnya dikenal di seantero nusantara. Lalu darimana sepeser demi sepeser dia dapatkan? TV, panggung, bahkan sebagai ‘pembicara’ tampaknya menjadi jalan rizkinya dan itu semua tidak mudah untuk dicopy orang!!! jadi… kenapa masih belum rela (ikhlash) karya kita dicopy orang kalau itu jauh lebih bermanfaat bagi masyarakat daripada kita simpan di lemari sampai jadi out of date dan tidak relevan lagi dengan kekinian? Lebih baik ciptakan terus blue ocean strategy dimana kompetisi itu menjadi tidak relevan karena pikiran kita selalu 1,5 tahun di depan para pengcopy daripada alokasikan energi untuk ‘melindungi’ Hak Atas Kekayaan Intelektual, bener nggak?
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
Hak cipta (peng-copy-an)… #1
“They copied all that they could follow but they could not copy my mind, and I left ‘em sweating and stealing and a year and half behind“
—Rudyard Kipling
tapi rasanya masih berat yah kalau karya kita dicopy orang, padahal tak seorangpun akan mampu tuk mengcopy pikiran kita… selama pikiran ini kita pelihara agar tetap up to date maka setiap karya kita dicopy orang berarti kita biarkan sang pengcopy 1,5 tahun tertinggal di belakang kita dan itu bisa kita jadikan sebagai motivasi tuk keluarkan karya versi berikutnya. Makanya yuk terus ciptakan blue ocean strategy agar kompetisi itu tak relevan bagi kita karena karya (pikiran) kita selalu 1,5 tahun di depan para pengcopy, ingat… para perintislah yang akan mendapatkan daging segarnya, follower mah cuma memperebutkan sisa-sisanya. Hak cipta memang milik Sang Khalik. Bukankah ilmu/karya yang bermanfaat bagi orang lain lah yang cukup tinggi nilainya di hadapan Sang Pencipta, mengapa nilai itu kita halangi dengan ‘tembok’ hak cipta sekedar utk sepeser dua peser rupiah? Tapi kalau sampai saat ini kita masih ngikut aliran propietary, microsoft, HAKI… it’s ok, yang penting tingkatkan terus kecerdasan aqidah kita biar semakin dewasa dalam menyikapi hidup yang dijamin pasti suatu saat akan berakhir…
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
Sekolah yang baik itu…
Sebuah ukuran yang dapat digunakan untuk mengetahui apakah sebuah sekolah itu baik atau tidak adalah:
“Apakah setiap siswanya merasa senang/gembira untuk pergi ke sekolah atau merasa beban dan akan merasa sangat berbahagia ketika libur sekolah”
Konon di Iran itu ada sebuah sekolah yang dapat dijadikan ’senjata’ oleh para orang tua untuk ngancam anaknya, cara ngancamnya seperti ini:
“Awas kalau nggak nurut ibu, besok nggak boleh sekolah.” Sang anak akan segera mohon maaf pada ibunya (kalau perlu sambil nangis) agar tidak dijatuhi hukuman seperti itu. Kebayang kan, gimana menariknya tuh sekolahan, kira-kira di Indonesia ada nggak yah sekolah seperti itu?
Kang haji (isue), masih semangat untuk mewujudkannya?
Ditulis dalam Pendidikan | Tag:baik, menarik, sekolah
The greatest teacher…
Konon…..
- Guru yang kerjanya ceritakan isi buku itu masuk kategori biasa-biasa saja
- Guru yang kerjanya ceritakan apa yang sudah beliau kerjakan masuk kategori kelas menengah
- Guru yang ngomongnya nggak banyak tapi menginspirasi siswanya, itulah guru yang mumpuni
setujukah?
Ditulis dalam Pendidikan
Monitor browsing activities
Adakah yang tahu software yang bisa digunakan untuk memonitor aktivitas browsing pengguna jaringan? Berhubung di masjid-ku pasang speedy jadi adminnya harus bisa monitor aktivitas user biar speedynya untuk hal-hal positif saja. Tidak melanggar privasi kan kalau tujuannya seperti itu?
Ditulis dalam IT
Berpikir 2 sisi
Biasakan untuk berpikir dan bertindak 2 sisi:
- Kalau sedang sakit, jangan pernah sakit hati jika tak seorang rekan pun menjenguk kita, tapi…
- Kalau ada rekan yang sakit, bersegeralah menjenguknya
- Kalau berkecukupan biasakan untuk berbagi dengan yang kekurangan, tapi…
- Kalau berkekurangan, jangan merepotkan yang berkecukupan
- Kalau dizhalimi bersegeralah untuk memaafkan, tapi…
- Kalau menzhalimi bersegeralah untuk minta maaf
- Ketika masih hidup bekerjasamalah dengan sebanyak mungkin orang untuk ngumpulkan bekal di akhirat nanti, tapi…
- Ketika ajal menjemput, jangan susahkan yang masih hidup untuk ngirim pahala
Silakan kalau mau diteruskan…
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
Tak kan pernah sampai puncak…
Jangan sekalipun terlintas dalam pikiran bahwasanya kita telah mencapai puncak yang paling puncak dan tak ada lagi pencapaian yang lebih puncak dari yang sudah kita raih. Emang ada yang lebih tinggi daripada profesor berpengalaman 30 tahun? Tentu saja ada, yaitu profesor dengan pengalaman 30 tahun dan hapal juz amma
Ingat, dunia ini tak seluas daun kelor men…. di luar sana masih teramat sangat banyak pisan sekali hal-hal yang tak kita ketahui.
Ilustrasi simpel:
- Jangan merasa hebat kalau shalat anda baru setahun 2 kali (Idul Adha dan Idul Fitri), ada lho yang shalatnya lebih hebat: seminggu sekali (jumatan) alias 52 kali pertahun (26 kali lipat!!!)
- Jangan juga merasa sudah sampai puncak kalau shalat seminggu sekali, ada lho yang shalatnya 5 kali sehari, berapa kali lipat tuh? hitung sendiri
- Jangan juga merasa sudah sampai puncak kalau sudah shalat 5 kali sehari (17 rakaat), ada lho yang shalatnya 27 rakaat (17 + 10 rakaat shalat rawatib).
- Jangan juga merasa sudah sampai puncak kalau sudah shalat 27 rakaat, ada lho yang shalatnya 38 rakaat (27 + 11 rakaat shalat tahajud).
- Jangan juga merasa sudah sampai puncak kalau sudah shalat 38 rakaat, kalau shalatnya belum tepat waktu, belum berjamaah di masjid (u/ pria), hapalannya cuma sekitar qulhu dan qulyaa, khusyunya belum pol, …. belum …., …. belum … , silakan teruskan sendiri……
Yakinlah, di bidang apapun akan seperti itu keadaannya, di atas langit akan selalu ada langit berikutnya, jadi adakah alasan yang pantas untuk bersombong diri? Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin, segala puji hak Allah Sang Penguasa alam, adalah kewajiban kita untuk selalu memuji Allah…
Ditulis dalam Kecerdasan Aqidah
« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »