Barangkali ada yang berpendapat bahwasanya suatu keanehan dan tidak wajar ketika jamaah ahmadiyah dilarang melakukan aktivitas di Indonesia hanya karena ideologi atau kepercayaan mereka padahal mereka tidak pernah melakukan kekerasan apapun. Jika anda menganggap tindakan pemerintah/negara melarang (pengikut) Ahmadiyah beraktivitas di Indonesia merupakan tindakan yang tidak benar (salah), maka ingatlah bahwasanya manusia itu tak ada yang tahu segalanya termasuk anda dan saya. Apakah anda merasa memiliki pengetahuan yang cukup mumpuni berkaitan dengan ajaran Islam sehingga berani menyatakan bahwasanya Ahmadiyah itu tidak layak dilarang?
Bisakah kita jelaskan, kenapa MUI menyatakan Ahmadiyah sesat dan layak tuk dilarang, sementara tak ada pernyataan (MUI) seperti itu utk ajaran Protestan, Katholik, Hindu, Budha? padahal kalau dilihat pakai kacamata Islam jelas-jelas ajaran-ajaran itu ’sesat/kafir’ sebagaimana halnya ajaran-ajaran tersebut pun menganggap Islam sebagai ajaran ’sesat/kafir’.
Bisakah kita jelaskan, kenapa ke 5 agama ‘resmi’ yang diakui negara ini tidak saling melarang?
Kedua: seandainya kita memiliki anak perempuan dan anak perempuan kita itu melakukan seks bebas dengan berganti-ganti pasangan yang dilakukannya di rumah kita bahkan mungkin di depan kita dimana tak ada kekerasan sedikitpun (kan dilakukannya dengan sukarela, suka sama suka) kitapun sebagai orang tuanya boleh milih mau lihat setiap adegan atau pergi it’s up to us, nggak ada kekerasan tuk memaksa kita melihat sang buah hati berperilaku seperti ayam (hewan) dalam hal aktifitas seksual, Tak ada hak kah buat sang orangtua tuk melarang anaknya berperilaku seperti itu (hewan) dikarenakan tak ada kekerasan tapi sekedar ideologi/kepercayaan sang anak berkaitan dengan kehidupan seksual? Apa yang akan kita pertanggungjawabkan nanti dihadapan Sang Maha Kuasa atas amanah anak yang dititipkanNya kepada kita? Tentu saja pertanyaan terakhir tak perlu dijawab kalau kita tak percaya akan ada kehidupan berikutnya setelah kematian kita kelak.
Jadi ingatlah bahwasanya pengetahuan kita itu cuma setitik air di antara luasnya samudra, oleh karena itu berusahalah untuk selalu berpikir (minimal) 2 sisi.