Oleh: rkp | 13 Maret, 2008

From kompetisi To kolaborasi…

Sesungguhnya kolaborasi itu jauh lebih powerful daripada kompetisi.
Pencapaian ummat manusia di dunia ini akan jauh lebih baik
jika lebih mengedepankan kolaborasi daripada kompetisi.
Berapa ribu/juta/miliar dolar yang harus dikeluarkan Obama dan Hillary
sekedar untuk jadi capres dari partainya, berapa dolar lagi yang harus dikeluarkan untuk ngadu capres demokrat dengan republik. Demikian juga dengan cagub di jawa barat. Kenapa para calon itu tak kolaborasi saja kalau memang tujuannya sama: memakmurkan rakyatnya. Bukankah dana kampanye dan pilkada yang miliaran rupiah itu bisa dijadikan modal awal untuk memakmurkan rakyat?

Teladan yang bisa kita contoh (real bukannya dongeng) :

Adalah seorang Khalid bin Walid, ketika masih masuk golongan kafir Quraisy menjadi panglima perang yang membuat kaum muslimin mengalami ‘kekalahan’ di Perang Uhud. Setelah masuk Islam beliaupun selalu terpilih untuk menjadi panglima perang di setiap perangan antara kaum muslimin dan kaum kafirin. Suatu saat di jaman khalifah Ummar bin Khatab, Khalid bin Walid diperintahkan untuk terjun ke medan perang tetapi tidak lagi sebagai panglima perang melainkan sebagai seorang prajurit biasa. Kira-kira begini kata Umar bin Khatab: “Ya Khalid, selama ini kamu selalu menjadi panglima dalam setiap peperangan dan kita selalu memenangkan peperangan itu. Aku khawatir hal tersebut akan membuatmu menjadi takabur, oleh karena itu dalam peperangan berikutnya kamu jadi prajurit biasa saja.” Bagaimana respon Khalid bin Walid? Begini beliau menjawab (kira-kira): “Bagiku tak ada bedanya apa jabatan yang kupegang saat berperang, yang pasti kalau aku ridha lillaahita’ala hanya 2 kemungkinannya: syurga bagianku kalau aku syahid atau pahala bagianku kalau aku hidup, tak perduli apapun jabatanku saat berperang.”

Begitulah kita akan bersikap kalau tahu hakekat dari setiap aktivitas yang kita lakukan, yang penting tujuannya tercapai tanpa perlu meributkan apa peran/jabatan yang harus saya mainkan.

Jadi …sampai kapan akan kita hambur-hamburkan energi ini untuk hal-hal yang ‘mubazir’?


Tanggapan

  1. jadi gimana seharusnya?


Beri tanggapan

Your response:

Kategori