On Fri, 2 May 2008 14:44:13 +0700, Adriyanti Rivai wrote
“Tak banyak dari kita yang menaruh perhatian, ketika di sana meletus 2 konflik
besar tahun 1999 (tidak lama berselang setelah konflik Ambon dan Halmahera).
Tercatat 200 korban jiwa terbunuh, ratusan lainnya menderita luka parah, 20
desa nyaris rata dengan tanah, 30.000 orang mengungsi di puluhan bangsal
penampungan.Di sana pulalah antara Juli 1999 sampai Februari 2000 telah berlangsung suatu
proses rekonsiliasi yang berhasil menghentikan kerusuhan dan konflik tersebut.
Dan nyaris tidak ada yang memberitakannya. Perhatian media-massa dan banyak
orang masih lebih tersita oleh gegap gempita proses-proses rekonsiliasi di
Ambon, Ternate, dan Poso yang gagal berkali-kali.”
Buat oknum ‘wartawan’ mah good news is bad news. Bagi Mereka (para oknum ‘pemilik media’ via ‘wartawannya’ termasuk juga para oknum ‘broadcaster’) mah nggak penting efek dari berita yang penting mah duit…. coba apa manfaat “reg ramal ki xxx”, gosip selebritis, sinetron abg, … buat kesehatan jiwa bangsa ini?
Makanya manfaatkan internet, blog, milis, dll. yang nota bene “nggak ada” pemiliknya tuk mengimbangi dominasi para oknum pemilik media ‘tak bermoral’ itu. Kalau kita mau sebenarnya saat ini tidak terlalu susah tuk bikin majalah IT (rulimajalah.com), bikin ‘film’ berisi potongan-potongan video seperti Fitna nya wong gendeng itu ;, dan lain-lain).
Kembali lagi ke masalah klasik: problem dah tahu, solusi dah tahu, kemauan yang nggak pernah muncul tuk dijalankan hingga problem itu solved. Kita semua cuma sampai tahap identifikasi masalah, diskusi cari solusi, formulasikan solusi terus…. cari masalah lain, tuk ‘disolusikan’ cerita na mah, padahal cuma didiskusikan dengan output ’solusi’ tertulis yang tak pernah diwujudkan.
Kenapa semua itu terjadi berulang-ulang? Itulah perangkap syetan. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat manusia yang ngomongnya jangan diperbudak dunia kenyataannya menjadikan dunia segalanya, ngomongnya syetan adalah musuh no 1 kenyataannya menjadikan syetan jadi idola (gimana bangganya band ungu dan penggemarnya menggunakan tanduk sebagai simbol mereka, ntah mereka tahu atau tidak tuh tanduk sebenarnya simbol syetan). Ngomongnya jangan korupsi ternyata koruptor beneran (Anggota DPR dari Golkar, PDIP, PPP, Demokrat: Koran SINDO 4 Mei 2008), dst…. Nggak malu ditipu syetan melulu? Atau malah senang dan siap berjibaku tuk membela sang syetan? Sungguh menyedihkan kita ini, ihik ihik ihik….